Dituduh tukang Santet, Berani sumpah POCONG !

10.10

Banyuwangi - Tidak terima dituduh sebagai tukang santet oleh warga. seorang warga Dusun Grajagan Pantai, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, menantang menggelar sumpah pocong, Jumat (23/10/2009) malam.

Ritual keramat itu digelar di Mushola Al-Barokah dengan disaksikan ratusan warga. Tiga pasangan atau 6 orang yang terlibat perselisihan menjalani ritual sumpah pocong.
Mereka yakni, pasangan suami istri (pasutri), Paiman (55) dan Suwanah (50). Pasutri, Suyud (65) dan Misnati (60), serta kakak beradik Supriyanto (45) dan Sumiati (43). Keenamnya merupakan warga yang terlibat dalam rumor santet yang berkembang di dusun mereka sejak seminggu sebelum bulan Ramadan lalu.
Sumpah pocong digelar atas permintaan Paiman yang merasa disudutkan adanya isu santet tersebut. Pasalnya namanya diposisikan sebagai dalang dibalik penderitaan Misnati, istri Suyud serta kakak beradik, Supriyanto dan Sumiati yang menderita sakit pinggang akut. Isu itu sendiri tak jelas dari mana asalnya.
"Dengar-dengar ada isu tukang santet di kampung ini yang mengarah ke Pak Paiman," jelas seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya, saat ditemui detiksurabaya.com di Desa Grajakan Pantai, Sabtu (24/10/2009).
Dengan dipimpin ustad Gofur, prosesi sumpah pocong akhirnya dilakukan. Tiap pasangan akhirnya diambil sumpahnya dengan balutan kain kafan layaknya seorang mayat. Sumpah diambil dihadapan pihak kepolisian, koramil serta ratusan warga, oleh Kepala Dusun setempat, Surahmat.
Intinya, jika diantara mereka ada yang bersalah maka akan mendapat musibah yang berujung pada kematian. Meski begitu, para tersumpah tanpa ragu mengucapkan sumpahnya. Bahkan, Paiman, seusai menjalani sumpah pocong, kembali menegaskan jika dirinya bukan dukun santet seperti dalam isu yang terlanjut berkembang tersebut.
"Jika saya dukun santet saya bersedia celaka saat melaut. Apabila saya membeli santet untuk mencelakai orang, saya siap mengalami kebutaan pada kedua mata. Atau jika saya memiliki niat membeli santet, saya siap mati ditabrak truk," tegas Paiman dengan nada berapi-api.
Ritual sumpah pocong ditutup dengan pembacaan doa oleh Ustad Gofur. Dalam doanya, Ustad nyentrik tersebut meminta kepada Tuhan agar membuka kebenaran akan isu yang sudah meresahkan kampung nelayan tersebut.
Sumpah pocong bukan hal yang baru bagi masyarakat Banyuwangi. Ritual tersebut hadir sebagai solusi jika sebuah permasalahan (fitnah) menemui jalan buntu. Sumpah pocong selama ini terbukti mampu meredam gejolak dimasyarakat sekaligus membersihkan nama baik serta harga diri yang bersangkutan.
Bagi yang bersalah, diyakini akan segera mendapat musibah yang berujuang pada hilangnya nyawa.
sumber : detik

You Might Also Like

1 comment

  1. masya Alloh... bener2 syirik tuh orang sekampung!

    BalasHapus