Debu dan titik titik

00.01

Hidup bukanlah tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bagiku, hidup hanya sebatas proses dimana manusia ditantang untuk melewatinya dengan segala suka maupun duka. Proses itu yang menjadikan manusia kelak berada di tempat terakhir yang lebih pantas, dimana segala sesuatunya akan mencapai akhir tanpa koma yang juga sebagai sebuah penutup dan ditandai dengan titik. 

Kini aku berada pada proses itu—jika tidak berarti aku sudah mati. Segala sesuatu yang kulakukan memang memiliki konsekuensinya masing-masing. Dengan segala hormat, aku memilih jalan ini, jalan aneh yang kebanyakan orang memilih untuk tidak melewatinya. Keluar dari comfort zone merupakan sebuah tantangan. Aku melompat dari jembatan yang sudah kubangun, untuk menggapai apel dipesisir sungai. Apel merah berkilauan tanpa lapisan lilin. Tak butuh waktu lama untukku melompat ke sungai. Waktu berhenti sepersekian detik saat tubuh ini melayang di udara, sesaat sebelum menyentuh air. “Byuuur!” hempasan air yang berlawanan arah dengan bobot tubuhku, seolah membenarkan hukum Archimedes yang tidak benar-benar kupahami saat sekolah dulu. 

Seketika aku menyadari, “bego, aku kan gak jago renang! Lambaian ranting serta dedaunan pohon Apel tersebut bagai menyaksikan diriku yang tenggelam, mengisyaratkan, “cieeeh tenggelem, sukurin lu”. Aku pun kembali mendapati diriku yang setengah terpejam masih terbaring diatas kasur.

Sungguh menyenangkan, menikmati renyahnya tepung batagor yang digoreng pagi hari sebelum memulai kerja. Pikiran itu sudah menggerogotiku sepanjang jalan menuju kantor. Entah aku tidak dapat memikirkan pekerjaan yang selalu setia menungguku disana, seolah aku tidak bisa membedakan antara ruang kerja dengan sebuah kompleks candi. 

Sunyi, isinya tak jauh berbeda dari bongkahan batu yang tak bergerak. Hingga tibalah aku didepan sebuah sekolah dasar berjarak lima puluh meter sebelum kantor. Sudah banyak gerobak pedagang yang berjualan sepanjang pagar sekolah. Jajanan SD memang paling menggiurkan serta dapat mengoyak luka lama dalam masa-masa nostalgia. 

Tanpa membuka helm half-face, aku mengantri dan duduk di kursi pedestrian yang berada di serong kanan belakang si abang batagor, persis diantara gerbang dan gerobak. 

“Mas, masih lama nih ngantrinya, gak apa-apa?” si abang menjelaskan dengan raut wajah yang agak kewalahan, 
“gak apa-apa kok bang, santai aja” jawabku tersenyum sambil melirik ke seorang wanita bertubuh gemuk yang membeli puluhan plastik batagor. 

“Bang tadi yang seratus ribu, dijadiin lima ribu ya bang per plastiknya” kata wanita tersebut di sebelah kiri si abang batagor. “Bumbu sama batagornya dipisah ya bang” tambahnya. 
“Perasaan gue kalo laper gak gini-gini amat..HAHAHA” pikirku sambil terkekeh.  



to be continue and edit later
sent from my iphone

regards,
Fahry Adam

You Might Also Like

0 comment