Kronologi Pembunuhan Aktivis Munir

17.44

Berat banget ya bahasan saya kali ini, sok-sok jadi pengamat sejarah pula hehe. Saya tertarik sekali untuk mengangkat tema munir, karena seorang aktivis yang kepergiannya meninggalkan sejuta misteri ini sempat tidak ada kabar yang jelas, hingga akhirnya kembali menyeruak ke permukaan. Tak hanya itu, saya juga merasa sebagai blogger bisa membantu untuk mengingatkan teman-teman pembaca, bahwa kasus ini memang harus diangkat, diperjelas dan diselesaikan. Seolah terdapat mafia dibalik kasus ini sehingga perbincangannya tidak lagi santer terdengar.



Munir Said Thalib, akrab dipanggil Munir, seorang aktivis HAM Indonesia kelahiran Malang, 8 Desember 1964. Ia adalah seorang tokoh pembela HAM di Indonesia yang menunjung tinggi tolerasnsi, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, anti kekerasan dan berjuang tanpa kenal lelah dalam melawan praktik otoriter dan militeristik. Munir menamatkan gelar sarjana hukum di Universitas Brawijaya Malang. Sosok yang dikenal aktif dan pernah menjabat sebagai ketua Senat Fakultas Hukum pada tahun 1998 dan segenap jabatan lainnya ini turut berperan dalam membantu pemerintah saat menjadi tim investigasi dan tim penyusunan Rancangan Undang-undang.

Kronologi pembunuhan Munir dimulai saat pesawat yang ditumpanginya menuju Amsterdam, Belanda, dengan maksud untuk melanjutkan studynya ke Utrecht University telah take off dari Singapura. Awak kabin pesawat Garuda Indonesia dengan kode GA-974 melaporkan bahwa seorang penumpang bernama Munir menderita sakit. Di kala itu Munir beberapa kali terlihat keluar-masuk kamar mandi. Melihat kondisi itu, pilot menyarankan awak kabin untuk memindahkan Munir untuk duduk dekan salah satu penumpang yang berprofesi sebagai dokter. Dalam perjalanan menuju Amsterdam, naas, Munir telah meninggal dunia 2 jam sebelum pesawat mendarat pada 7 september 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam.

Berselang dua bulan setelah kematiannya, Polisi Belanda (institut forensik belanda) mengeluarkan kabar bahwa telah ditemukan jejak senyawa arsenikum dari hasil otopsi jasad Munir. Hal itu juga dikonfirmasi oleh kepolisian Indonesia. Arsenik adalah suatu unsur kimia (semilogam) golongan VA, berwujud bubuk putih, tanpa warna dan bau (sangat dikenal dalam kaitannya sebagai racun makanan). 

Contoh Zat Arsenik yang terkena pada kulit
Secara mengejutkan, Seorang Pilot Garuda dijatuhi vonis 14 Tahun hukuman penjara atas kematian Munir. Ia dikatakan bertanggung jawab atas pembunuhan aktivis HAM tersebut. 20 Desember 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto, sang pilot, didakwa telah menaruh zat arsenik pada makanan Munir atas perintah dari seseorang. Ketika ditelusur lebih lanjut, diduga Pollycarpus menerima panggilan telepon dari nomor telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, namun tidak dijelaskan lebih detail. Selain itu Presiden kala itu, Bapak SBY juga membentuk tim investigasi independen, namun hasilnya penyelidikan kasus ini tidak pernah diterbitkan ke publik.

Lalu pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir. Anehnya, dari berbagai artikel yang saya baca, hampir semuanya mengaitkan Mayjen Muchdi dengan Prabowo Subianto. Entah apakah maksud dibalik ini untuk menjatuhkan namanya, atau bagaimana saya kurang tahu. Tapi memang Mayjen Muchdi merupakan wakil ketua umum partai Gerindra kala itu. Namun pada 31 Desember 2008, ia divonis bebas, dan ketiga hakim yang memvonis bebas kini tengah diperiksa ulang, karena kasus kontroversial tersebut.

Kini kasus ini kembali naik ke permukaan media untuk ditelaah lebih lanjut. Presiden Jokowi telah memerintahkan untuk melanjutkan kasus Munir dan mengusut tuntas hasil investigasi yang sempat menghilang. Beredar kabar bahwa hasil dokumen investigasi tengah berada di mantan Presiden SBY. Hingga hari ini, kabar tersebut belum jelas klarifikasinya.

You Might Also Like

0 comment