Memahami ISO dalam Fotografi

00.32

Tampilan Setting ISO pada kamera Fujifilm
Dalam artikel kali ini saya akan coba membahas mengenai ISO. Sebelumnya, perlu teman-teman ketahui bahwa dalam fotografi terdiri dari tiga pilar utama, yakni Shutter speed, Aperture dan ISO sensitivity. Secara garis besar, fungsi Shutter speed dan Aperture adalah mengontrol seberapa banyak cahaya yang masuk kedalam sensor kamera. Lalu bagaimana dengan ISO? fungsinya sendiri untuk menentukan seberapa banyak cahaya yang dibutuhkan ditentukan oleh sensitivitas dari sensor yang digunakan. Tentu jika kamu belum terbiasa, maka akan perlu waktu untuk memahaminya. Yuk simak penjelasannya.

Ukuran standar dari ISO yang ada pada kamera sendiri umumnya berkisar antara 200 hingga 1600. Pada era kamera analog, ISO atau yang jaman dulu dikenal sebagai ASA, tercantum pada roll film yang digunakan. Sedangkan pada era digital seperti saat ini, ISO sudah bisa digunakan secara mudah dari yang terendah sekitar 50 hingga yang tertinggi sekitar 204.800 hanya dalam pilihan digital! 

Dalam menentukan ISO sendiri terdapat dua faktor yang menjadi pertimbangan. Pertimbangan pertama yakni menentukan jumlah cahaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan exposure yang tepat. Semakin kecil nilai ISO, maka semakin banyak pula cahaya yang kamu butuhkan. Semakin tinggi nilai ISO, maka semakin sedikit cahaya yang dibutuhkan.

Singkatnya, ISO rendah cocok digunakan pada kondisi terang seperti siang hari. Dan ISO tinggi cocok digunakan pada malam hari

ISO-200, Shutter 1/1000, mudah dilakukan pada siang hari
Pertimbangan kedua dalam menentukan ISO adalah jumlah noise yang akan muncul didalam hasil foto. Noise atau yang lebih mudah terlihat sebagai bintik-bintik pada kamera akan mengurangi kualitas dari foto tersebut. Hal penting yang mempengaruhi noise pada kamera di era digital adalah ukuran sensor yang digunakan. Semakin besar sensor dan pixel yang digunakan, maka semakin kecil noise yang terlihat. Dan noise akan semakin terlihat pada ISO diatas 1600. Mungkin akan berbeda pada kamera-kamera tertentu, salah satunya Sony A7S yang diciptakan khusus meminimalisir noise pada ISO tinggi atau mampu bergerak leluasa pada pemotretan gelap.

Berikut beberapa gambar untuk mempermudah kamu dalam memahami pengaruh ISO pada foto. Gambar dibawah diambil pada ruangan kamar pada saat malam hari dengan shutter speed dan aperture yang sama. Gambarnya juga dikompres, karena di blog tidak bisa upload file terlalu besar.


Dari gambar handphone diatas terlihat bahwa dengan adanya peningkatan ISO maka semakin terang pula hasil fotonya, padahal cahaya yang terdapat didalam ruangan hanya bermodalkan lampu kamar. Maka bisa kita simpulkan bahwa dengan meningkatkan ISO dapat membantu fotografer untuk memotret objek dalam keadaan gelap. Contoh lain terdapat pada foto dibawah ini.

sudah pakai f/2, shutter speed 1/200, masih gelap. terpaksa ISO dinaikkan sampai 5000.
Kondisi memotret didalam angkutan publik pada malam hari sungguh memerlukan trik untuk bisa mendapatkan gambar yang jelas dan tajam. Terlihat pada gambar diatas, objek yang ingin dijadikan point of interest berada pada laki-laki berkacamata dengan jaket berwarna hitam. Lalu apa yang harus dilakukan? 

Penggunaan ISO tinggi bisa berakibat pada munculnya noise yang merusak kualitas gambar, maka hal yang harus dilakukan pertama adalah mengecek shutter speed. Keadaan angkutan yang cenderung bergerak tak menentu membuat pegangan terhadap kamera seringkali goyang, tak heran kita membutuhkan shutter speed yang cepat untuk menghindari terjadinya blur. Maka speed yang dibutuhkan berkisar umumnya 1/160 hingga 1/250 pada kondisi dalam ruangan. 

Kedua, gunakan Aperture dengan bukaan paling besar, ditandai dengan angka yang paling kecil. Saya menggunakan f/2 agar cahaya dapat semakin banyak masuk kedalam kamera, dan agar penggunaan ISO tinggi bisa ditekan seminim mungkin. Konsekuensinya adalah gambar diluar objek fokus akan mengalami blur atau bokeh. Hal ini bisa jadi baik, bisa juga tidak. Karena sensitivitas fokus kamera sangat menentukan. Berbahayanya adalah ketika semakin banyak objek mengalami bokeh/blur, jika salah fokus, maka foto akan gagal atau missfocus.

Ketiga adalah pengaturan ISO. Ternyata dari hasil dua kombinasi tersebut, didapatkan ISO yang mencukupi untuk exposure ada di level ISO-5000, dan dapatlah foto tersebut. Jika di teliti lebih dekat, foto tersebut mengalami noise yang cukup banyak. Dan masih mengalami blur akibat goyangan kendaraan. Sayangnya apabila shutter speed dinaikkan lagi hingga 1/320, terpaksa ISO perlu semakin besar atau aperture semakin kecil. Sayangnya, jika ISO tidak boleh naik, lensa dengan aperture dibawah f/2 biasanya mahal sob.. hehe.

"ISO merupakan pengaturan sensitivitas cahaya secara digital. Semakin besar maka semakin sensitif. Pagi hari, ISO kecil. Jika ISO besar, nanti fotonya terlalu terang. Malam hari, ISO besar. Jika ISO kecil, nanti fotonya gelap." kesimpulan

Sehingga, saran saya untuk foto yang dilakukan di dalam kendaraan, settingan seperti yang saya jelaskan sebenarnya sudah cukup. Hanya saja kamu perlu trik untuk mendapatkan momentum. Cobalah memotret pada saat kendaraan berhenti sejenak akibat macet maupun lampu merah, karena akan berpengaruh sekali pada tingkat ketajaman.

Selain itu, jika memotret pada siang hari, seharusnya tidak akan begitu bermasalah pada ISO, karena jumlah cahaya yang cenderung banyak. Kasus Noise dan pengaturan ISO menjadi sangat penting ketika kamu hendak melakukan pemotretan pada kondisi gelap maupun malam hari. Namun itulah tantangannya, sulit tapi nagih!

You Might Also Like

1 comment