Memandang 2 Tipe Pekerja

08.35

Pada artikel kali ini saya mau membahas tentang memandang tipe-tipe pekerja secara garis besar berdasarkan referensi teori yang luar biasa banget. Definisi pekerja sendiri begitu luas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pekerja merupakan orang yang bekerja atau orang yang menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain atas hasil kerjanya. Di Indonesia, pekerja dikaitkan dengan istilah buruh. Namun yang akan dibahas lebih dari itu, yakni meliputi karyawan atau apapun yang bekerja.



Seorang ahli dibidang human relations, Douglas McGregor mengemukakan sebuah teori tentang perilaku seseorang dalam bekerja. Ia menyebutnya sebagai teori X dan teori Y. Dalam bukunya yang berjudul "The Human Side of Enterprise," ia menyimpulkan bahwa manusia terbagi atas dua tipe, yang digolongkan ke dalam teori X dan teori Y. Sebelum masuk kedalam teori tersebut, kita harus memahami definisi dari teori agar tidak salah mengerti membaca artikel ini.

Definisi teori menurut KBBI merupakan serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Sedangkan menurut Turner, teori merupakan proses mental untuk membangun ide sehingga ilmuwan dapat menjelaskan mengapa peristiwa itu terjadi. Sehingga dapat kita ketahui bahwa peristiwa atau fenomena alamiah yang dimaksud pada artikel ini adalah perilaku manusia.

Asumsi Teori X
Pada teori ini, Douglas McGregor beranggapan bahwa sebagian dari manusia memiliki kebiasaan alamiah untuk tidak menyukai pekerjaan, dan berusaha untuk menghindari pekerjaan. Dari teori tersebut dapat dijabarkan;
  • pegawai tidak menyukai pekerjaan, banyak diantara mereka harus dikontrol dan mendapat tekanan agar bisa bekerja cukup keras.
  • rata-rata pegawai lebih menyukai untuk diarahkan, dan berusaha menghindari tanggung jawab, ingin kejelasan/petunjuk
  • pegawai mengutamakan "keamanan" diatas segalanya, dan hanya memiliki ambisi kecil
  • asumsi ini digunakan pada kebanyakan pemimpin, sehingga mereka menggunakan dua metode manajemen, yakni "keras" untuk menghukum dan mengontrol, serta "lembut" untuk menciptakan harmoni dalam suasana kerja.
Umumnya teori X cocok digunakan untuk pegawai dengan tipe pekerjaan massal dan cepat. Seperti pekerjaan di pabrik, bangunan, dan lainnya.

Asumsi Teori Y
Pada teori ini, berlawanan dengan teori sebelumnya. Mereka adalah orang-orang yang beranggapan bahwa pekerjaan seperti permainan. Teori tersebut menjabarkan seperti;
  • tipe pekerja teori Y menganggap fisik dan mental yang digunakan saat bekerja tak lebih seperti saat bermain dan beristirahat
  • tanpa kontrol dan hukuman, tipe pekerja Y akan bekerja dengan kemauannya sendiri untuk memenuhi tujuan perusahaan.
  • jika pekerjaannya menyenangkan, maka tipe pekerja Y akan sangat berkomitmen dengan perusahaan.
  • banyak dari mereka yang senang belajar untuk menerima tanggungjawab, bahkan menginginkannya.
  • imajinasi dan kreativitas adalah keunggulan mereka
Teori Y umumnya cocok untuk digunakan pada kelas pegawai yang dekat dengan pimpinan. Seringkali ditempatkan sebagai pimpinan. Namun bukan berarti pegawai teori X tidak bisa jadi pimpinan. Banyak pula pimpinan teori X, karena setiap pekerjaan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tidak adil rasanya hanya memandang pegawai dari teori X dan Y, seharusnya kita juga memahami kebutuhan mereka. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui motivasi mereka pada pekerjaan.

Menurut Maslow, terdapat kebutuhan manusia yang dirangkum kedalam sebuah piramida hierarki yang menjelaskan bahwa kebutuhan manusia tidak hanya bekerja. Sehingga disinilah peran seorang manajer untuk memotivasi pegawainya tentang kebutuhan hidup yang harusnya dicapai oleh seseorang. Kebutuhan hidup tersebut digambarkan dalam piramida dibawah;

  • Kebutuhan paling dasar adalah kebutuhan biological dan physiological. Dimana seseorang butuh bernafas, makanan, air, tidur, dan kebutuhan dasar hidup lainnya.
  • Kebutuhan kedua adalah keamanan, yakni seseorang membutuhkan keamanan hidupnya, pekerjaannya, keluarganya, kesehatan, maupun tempat tinggal.
  • Kebutuhan ketiga adalah kepemilikan dan cinta. Dimana seorang manusia membutuhkan hubungan pertemanan, keluarga, dan pasangan.
  • Kebutuhan keempat adalah kepercayaan diri, yakni berupa penghargaan, status sosial, reputasi.
  • Kebutuhan kelima adalah aktualisasi diri, berupa pencapaian cita-cita, pengakuan, dan lainnya.
Umumnya manusia akan menempatkan kebutuhan tersebut secara berurutan. Yakni ketika kebutuhan dasar terpenuhi, maka seseorang akan mencari kebutuhan kedua dan seterusnya. Sayangnya, manusia itu unik, maka tidak semua demikian. Sehingga para manajer, seharusnya bisa memotivasi pegawainya dengan baik, sesuai dengan teori yang pas untuk pegawai tersebut serta memahami kebutuhan dari pegawai tersebut.


You Might Also Like

1 comment