Memahami Shutter dalam Fotografi

18.05

Setelah sebelumnya kita membahas mengenai ISO, pada artikel kali ini kita akan coba membahas tentang Shutter Speed. Dalam fotografi, cahaya merupakan penentu utama untuk menghasilkan gambar. Agar gambar dapat tercipta, maka kita harus mengontrol jumlah cahaya yang masuk kedalam sensor photosensitive. Jika dianalogikan, dapat dikatakan bahwa fungsi shutter ibarat rentang waktu mata manusia yang terbuka untuk memberikan peluang cahaya masuk. Pada kamera dengan mode auto, tentu kamu tidak perlu memikirkan berapa lama shutter harus bergerak, karena semua telah dikontrol oleh komputer. Artikel ini tepat untuk kamu yang ingin belajar manual fotografi, terutama di era kamera digital yang semakin berkembang.

Shutter pada kamera secara simpel merupakan tirai yang berada didepan sensor kamera yang selalu tertutup sampai kamera ditekan (potret). Saat menekan tombol potret, shutter akan terbuka dan secara penuh mengekspos sensor kamera dengan cahaya yang masuk. Setelah selesai mengumpulkan cahaya, maka shutter akan tertutup kembali. Secara prinsip pengaruh kecepatan shutter pada sebuah foto digambarkan dalam ilustrasi berikut



Shutter Speed adalah ukuran waktu pada kamera yang mengatur bukaan shutter dalam rangka memberikan celah bagi cahaya, umumnya setelah cahaya masuk kedalam lensa melalui diafragma aperture, langsung menuju sensor atau roll film. 

Jika shutter speed dalam kategori cepat, ia dapat membantu mem-beku-kan sebuah momen. Namun jika shutter speed dalam kategori lambat, ia dapat membuat momen menjadi blur, yakni dimana objek yang bergerak terlihat samar-samar searah denan pergerakannya. Efek shutter speed lambat seringkali digunakan untuk objek-objek yang ingin terlihat cepat, seperti balapan mobil atau motor. Shutter speed dalam sistem mata manusia berkisar 1/30 detik. Itu mengapa sebuah video yang merupakan satuan dari kumpulan gambar-gambar dapat terlihat sebagai objek yang bergerak secara halus di mata manusia.

Dalam shutter speed yang lambat, sering juga digunakan untuk menangkap objek pada malam hari dengan menggunakan tripod. Banyak fotografer landscape yang memanfaatkan shutter speed lambat untuk menciptakan pergerakan dari air terjun, sungai, sehingga hasilnya seperti kapas, dan lingkungan sekitarnya sangatlah fokus.


Shutter speed diukur dalam satuan detik, seperti penulisan 1/4, yang artinya kecepatan shutter seperempat detik. Dan ketika tertulis 1/500 yang berarti satu per lima ratus detik, yang artinya sangat cepat! Kebanyakan kamera modern dapat menggunakan shutter speed hingga 1/4000, bahkan ada pula yang dapat lebih cepat. Sedangkan untuk shutter speed lambat dapat digunakan hingga 30 detik lamanya (tanpa menggunakan remote trigger).

Dalam dunia fotografi, Slow Shutter Speed dikategorikan sebagai toleransi kecepatan shutter yang dianggap masih dapat digunakan tanpa adanya guncangan yang terlihat pada hasil kamera. Beberapa lensa kamera di pasaran sudah memiliki peredam getaran internal untuk menghasilkan foto yang tajam meski dengan shutter speed rendah pada saat hanya dipegang menggunakan tangan.

Untuk mengubah shutter speed pada kamera, kamu bisa mengubah settingan kameramu dengan "shutter priority" atau mode Manual.

Berikut ini adalah contoh shutter speed lambat yang diambil pada malam tahun baru. Dengan menggunakan shutter speed 10 detik, menyebabkan percikan ledakan kembang api terlihat seperti garis. Kamu juga dapat menyadari bahwa garis tersebut tidaklah lurus atau nampak bergetar, itu akibat dari saat menggunakan shutter speed lambat (10detik), sebaiknya menggunakan tripod.


Beberapa penggunaan shutter speed pada pagi umumnya tidak akan mengalami masalah yang berarti, contohnya pada foto dibawah ini ketika saya berada di daerah perkebunan. Pada foto pertama, saya berada di area terbuka sekitar jam 10-11 pagi. Area ini begitu terang. Sehingga saya cukup menggunakan ISO sebesar 400. Shutter speed dapat menggunakan kecepatan yang tinggi, mengingat cahaya yang masuk cukup besar.


Berbeda dengan foto diatas, foto dibawah ini berlokasi dibalik bukit. Sehingga cahaya mulai sedikit terhalang oleh tanaman-tanaman besar disekeliling matahari. Dengan setting ISO yang sama pada foto diatas, dan shutter speed yang mirip, maka hasil foto akan sedikit lebih gelap. seharusnya foto dilakukan dengan shutter speed yang lebih lambat agar gambar lebih terang.


demikian yang bisa saya tulis pada artikel ini, semoga bisa membantu temen-temen yang baru ingin belajar. terima kasih.

You Might Also Like

1 comment

  1. Mantap ni ilmunya tentang foto fotoan. Bookmark dlu haha!

    kali aja mau mampir ke blog gue beruangtampann.blogspot.com

    BalasHapus