Tes CPNS PU

16.46

Wowowow! Sudah berselang beberapa hari setelah saya mengikuti tes CPNS yang diadakan oleh PUPR. Jadi memang di tahun 2017 ini, pemerintah membuka lowongan CPNS yang dibagi menjadi dua tahap. Pada tahapan pertama, itu ada Kemenkumham kalau ngga salah. Lalu tahapan kedua langsung muncul banyak instansi pemerintah yang membuka lowongan, salah satunya PU. Nah awalnya saya sendiri ngga berpikir untuk mendaftar, karena sedang kuliah, namun tiba-tiba last minute saya pun mendaftar.

Jadi diantara semua persyaratan pendaftaran untuk tes CPNS PUPR ini, yang paling menyulitkan bagi saya adalah persyaratan TOEFL. Bukan karena tes toefl sulit *gaya. Tapi karena tes toefl tidak bisa langsung jadi. Alias harus nunggu sekitar 1 minggu. Dan terakhir kali saya ikut tes toefl adalah jaman kelulusan S1, yakni 3 tahun yang lalu. Alhasil saya mencoba mencari lembaga pemerintah yang dapat menerbitkan sertifikat toefl, langsung setelah test. Dan voila! dapat! Bisa dibilang itu H-3 batas penutupan pendaftaran kalau ngga salah.

Berselang beberapa hari kemudian, saya mendapat info bahwa saya telah lulus seleksi administrasi. Wowowow. Ternyata memang tidak semua orang lulus seleksi ini. Ada saja berkas atau penulisan yang salah bisa menjadi hambatan untuk lolos seleksi. Setelah mengetahui kelulusan administrasi, kita langsung mengisi data diri yang ada di website cpns untuk dapat mencetak kartu SKD. Yakni kartu yang akan dibawa saat tes kemampuan di lokasi yang telah ditentukan. Ternyata terjadi keterlambatan kala itu, sehingga lokasi tes belum juga keluar untuk daerah jakarta.

Hari-hari pun dilalui tanpa ada informasi yang jelas, hingga pada akhirnya lokasi di Jakarta pun muncul, dan kartu tes dapat dicetak. Lokasi yang berada di daerah Pulo Gadung sebenarnya cukup menyulitkan. Karena akses transportasi publik yang tidak ditengah kota, serta lokasi yang bisa dibilang tidak familiar pun memaksa saya harus melakukan survey lokasi sehari sebelumnya. Bisa dibilang lokasi tesnya lebih dekat ke arah kelapa gading ketimbang bekasi. 

Pada hari Tes SKD, saya berangkat pagi sekali, sekitar pukul 5 pagi. Dengan mengenakan baju hitam putih serta sepatu pantoefel seperti yang tertera dalam tata tertib, saya pun sampai sebelum pukul 6 pagi di lokasi. Ketentuan untuk mendaftar ulang adalah 1 jam sebelum tes dimulai. Tes sendiri dilakukan pukul 8.30 hingga pukul 10. Dan untuk tes kloter pertama, saya dipaksa harus melalui ribuan manusia yang mengantri untuk menitipkan tasnya di tempat penitipan. Seharusnya tempat penitipan tas dibuat lebih banyak ketimbang satu pintu begitu.

Saya sedang mengantri penitipan tas, foto oleh yurim yang akan tes di kloter kedua
Akhirnya, saya pun berhasil menitipkan tas dan masuk untuk melakukan tes. Terlihat ratusan laptop merk Lenovo jadul atau IBM berjejer membentuk shaf yang sangat banyak. Saya pun duduk tanpa ada nomor urut dimeja komputer. Jarak antar manusia pun bisa dibilang cukup dekat dan rapat. Ada komputer yang sudah memiliki mouse, ada pula yang tidak. Cara pengerjaannya pun unik, dilakukan melalui browser seperti sedang mengisi kuesioner survey.

Terdapat 100 buah soal yang terdiri dari Kewarganegaraan, Kemampuan dasar dan Kepribadian kalau ngga salah. Meskipun menggunakan komputer, kita tetap dapat berpindah dari nomor 1 ke nomer manapun. Jadi tidak harus mengisi secara urut, dan dapat dilewati jika terasa sulit. Peserta dilarang membawa barang apapun selain kartu ujian dan KTP. Namun didalam ruangan, akan dibagikan pensil dan kertas buram untuk coret-coret saat berhitung.

Ketika kita sudah selesai mengerjakan seluruh soal, akan langsung tertulis di monitor hasil skor yang kita kerjakan. Sehingga tidak perlu lagi menunggu info melalui website. Sayangnya disitu saya gugur. Sad. Jadi dari ketiga aspek, saya gugur di Kewarganegaraan. Menurut Passing Grade yang ditentukan, saya kurang 1 nomor benar pada bagian kewarganegaraan!! Damn! Padahal jika ditotal, skor saya lebih besar dari teman saya yang lolos karena semua aspeknya berada diatas ambang minimum. 

Usai dari tes tersebut saya menemui beberapa teman yang juga mengikuti tes. Rata-rata teman dari UNDIP juga tidak lolos, namun kakak kelas ada yang lolos. Yaa mungkin next time bakal lebih belajar lagi soal kewarganegaraan hehe. Soalnya yang saya pelajari lebih pada aspek sejarah, ternyata soal undang-undang nampak lebih banyak membuat kita pusing.

Suasana lokasi tes pada hari sebelumnya, foto oleh sofuan
Ohya jadi tes yang saya lakukan ini ada di hari kedua, tapi kloter pertama. Nah foto diatas ini adalah tes hari pertama, tapi kloter terakhir kalau ngga salah. Jadi aslinya tesnya itu sore, tapi ngaret sampai malam. Teman saya yang tes pada hari itu pun akhirnya harus tes pada jam 2 malam. Luas biasa.

--- UPDATE---

Jadi tadi habis buka-buka web cpns PU, ternyata ngga ada apa-apa. Terus buka twitter dan ternyata ada ini. Ambang batas minimum. Bener ternyata di TWK ambangnya 75, sedangkan skor saya 70. Yang mencengangkan adalah catatan bahwa formasi cumlaude didasarkan pada peringkat atau rangking. Semoga aja yang ngga lolos pasing grade masih bisa dipertimbangkan ikut rangking.


Kalau dilihat dari jumlah formasi yang dibuka, yang diterima hanya 4 peserta. Sedangkan bila untuk lolos ke tahap SKB, dibutuhkan 3 kali jumlah formasi atau setara 12 peserta. Nah.. masalahnya, ketika saya lihat statistik via web cpns PU, ternyata jumlah peserta yang mendaftar di cumlaude (yg melengkapi berkas) ada 108 orang wkakaka. Jadi kalau semuanya hadir untuk tes, kurang lebih harus mengalahkan 1:9orang. Berharap saja deh saya masuk diantara 12 orang peserta untuk lolos ke tahap SKB, amin.

You Might Also Like

0 comment