Hapeku Hilang

22.14

Entah darimana harus kumulai cerita ini. Sekejap saja aku tak mampu berkata-kata lagi. Seperti judulnya, kamu sudah paham kemana aku akan membawa cerita ini. Aku sebenernya lagi males banget sih buat nulis. Enggak mood aja. Beberapa tulisan juga belum aku selesaikan, meski sudah ada draftnya. Jadi, here we are.

"dam mau kemana?"
"ke jakarta" jawabku singkat

Hari ini kukenakan jaket hitam dengan hoodie yang sebenarnya jarang kupakai jika pergi jauh. *iya jakarta-bekasi jauh* Dengan mengendarai sepeda motor hingga stasiun Kalibata, hari ini terasa biasa saja. Seperti hari-hari lainnya. Kereta pun membawaku hingga stasiun Sudirman. Ada yang lucu hari ini. Gojek yang kupesan kala itu, sama persis dengan gojek yang membawaku Sabtu lalu. 

"lho ada apa sabtu lalu?"
"aku melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan hari ini"
"apa tuh?"
"ke Polda Metro"

Ini bukan dejavu, tapi memang betulan terulang. Reka ulang. Ketika sabtu kemarin aku pergi ke Polda Metro dengan Gojek dari Stasiun Sudirman, hasilnya gagal. Kini aku mengulang hal yang sama, dengan abang gojek yang sama, ke tempat yang sama. Bedanya, saat ini aku dapat Sim C milikku kembali.


Hari kala itu terik sekali. Panas. Langit cenderung biru, bagus sekali untuk hunting foto. Aku pun teringat rencanaku hari itu. Setelah ambil sim, aku harus survey lokasi, setidaknya aku tahu foto seperti apa yang akan aku ambil.

"foto untuk apa?"
"aku dapat job motret"
"ohya? motret apa?"
"objek arsitektur, 14 venue nih"

Kebetulan setelah dibuat schedule bersama klien, hari pertama pemotretan berlokasi di senayan. Yap, hari pertama akan dihabiskan untuk senayan. Mengingat keuanganku sedang tidak baik, aku pun beranjak dari polda metro dengan berjalan kaki. Polda Metro - Senayan. Jauh? engga juga sih. Kalau santai, ntar tau-tau nyampe. 

Disinilah awal mula ide ini menjadi mimpi buruk. Berjalan dibawah teriknya matahari jam 12 siang. Mengenakan jaket parasut hoodie hitam, tas ransel converse biru, jeans panjang, dan sneaker aku berjalan menyusuri SCBD sambil sesekali mengambil gambar. Keluar dari SCBD, aku meletakkan semua barang-barangku pada tempatnya. Hape disaku kanan. Iphone di jaket. Dompet di saku belakang. Setelah beberapa saat, aku pun tiba di jembatan penyebrangan depan GBK, yang dekat FX. 


Ngga ada yang aneh, aku berjalan biasa saja. Keadaan juga tidak ramai, namun juga tidak sepi. Beberapa pegawai kantoran juga nampak lewat, seperti mau makan siang, atau habis makan siang. Sesampainya di ujung jembatan, persis di ramp, aku melihat sosok lelaki. Mata kami bertemu beberapa detik. 



Tatapan itu beda. Ya BERBEDA. Ada yang aneh. Ngga beres. Tapi aku positif saja. Sambil berjalan turun, lelaki itu berpindah, ke depan tukang gorengan. Seingatku, ia mengenakan atasan putih. Tidak seperti lelaki kantoran, seperti abang-abang, om-om, kayak orang yang sering berjemur di luar ruangan, kucel-lah. Bukan menghina. Dia ngga bawa tas atau apapun.

Selain abang-abang gorengan, ada juga yang jualan kelapa muda, hingga pernak-pernik persija. Setelah keluar dari ramp, dan melewati abang gorengan, aku ingat sekali beberapa buah gorengan sedang mendidih, buih-buihnya menyerbak. Mendadak aku dikejutkan oleh seorang bapak-bapak yang memegang kakiku. Lebih tepatnya celana kiriku pada bagian lipatan jeans yang kepanjangan. Sangat mendadak.

Ia mengusap-usap celanaku seperti sedang mencuci baju. Keras. Kencang. Cepat. Aku yang kaget dan heran langsung melihat ke kiri bawah. Ia pun mengeluarkan uang 5rb. 

"apaan sih?"
"ini ada uang.." seraya menunjukkan lembaran 5rb terlipat.

Aku memang ingat kalau aku punya beberapa uang 5rb terlipat di saku celana kiriku, tapi ngga kepikiran akan keluar dari celana. Langsung ku lanjutkan berjalan. Dia dan mas-mas berbaju putih langsung menghentikan bis kota dan menaikinya. Setelah beberapa meter berjalan ke depan, aku berpikir keras.

"ngapain orang liat 5rb gesek-gesek celana orang. normalnya kan di colek atau dipanggil saja cukup" sambil ku merogoh hape yang ada di saku kananku.

Ternyata sudah nggak ada. Aku mikir sebentar, apa aku taro tempat lain. Engga. Enggak mungkin, aku ngga naro tempat lain. Cuma di celana. Dan iya, bener. Aku kecopetan. 

Dari analisaku, orang tadi sengaja menggosok celana kiriku agar perhatianku tertuju maksimal pada bagian kiri hingga bagian kananku lengah. Entah bagaimana caranya, hapeku yang besar dan licin, bisa keluar dari saku kananku.

Yasudah. 

Aku udah pasrah. Panik? ya lumayan. Aku langsung menghampiri satpam FX untuk meminta bantuan, ia pun membantu ke polisi terdekat. Dari polisi aku dilempar kesana kemari untuk laporan. Dan itu jalan kaki. Sedang kena musibah tapi ngga dibantu anter sama sekali sama pak polisi, tega sih. JALAN KAKI. FX-Patung Obor-Polda Metro. Kenapa jalan kaki? karena nggak bisa mesen gojek.

Akhirnya sampai di Polda dengan keringat bercucuran. Asli riweh. Untungnya saat mengurus, cukup cepat. Tujuannya hanya untuk blokir nomor im3 dan xl. Disana pun aku juga numpang wifi mbak polwan untuk mengabarkan di sosial media. Saat mau kembali ke stasiun dari polda pun aku menumpang wifi gojek untuk bisa order gojek. Untungnya iphoneku masih ada, hanya ngga ada simcardnya.

Yasudah. Waktu kejadian sekitar jam 12.47 di bawah jembatan Busway GBK. Be careful. Dan aku sekarang bakal lebih aware sama manusia-manusia yang ada dijalanan, terutama tipe-tipe bapak-bapak/ mas-mas yang mukanya agak dekil, mondar-mandir gak jelas, dan ngga bawa tas atau apapun. Seriously, kalau orang punya tujuan, pasti ngga mondar-mandir gak jelas di jalanan.

Dan hilangnya hape ini kayak... apa ya... kesel sih, tapi yauda juga. Soalnya masih baru, ya ada kali satu semester bareng ni hape. Sekitar semester 3 awal lah. Dan itu beli karena iphonenya cepat sekali habis baterainya. Jadi memang nyari yang kapasitasnya besar dan gak yang mahal-mahal. Sekarang jadi bingung kalau mau keluar rumah lama-lama. Karena iphonenya ngga tahan lama. huft. Udah ya curhatnya. Sekian


You Might Also Like

0 comment