ISFP

02.49

Sebuah topik yang ingin saya angkat kali ini sangat berkaitan dengan diri saya sendiri. Meskipun hampir semua isi blog ini tentang saya. Ada beberapa yang curhat juga. Tapi kali ini beda. *mendadak serius* Jadi ceritanya di post ini saya mau ngebahas "personality". Hasek. Saya mau nulis tentang personality atau kepribadian saya. Kamu kenal saya? kamu tau saya orangnya kayak gimana? Sejujurnya saya ngga pernah bisa menggambarkan kepribadian saya secara jelas, karena bias banget. Nah kali ini saya mau mencoba menggambarkannya dengan sebuah kata ISFP.

Sebelumnya kamu tahu ngga ISFP apa? Kalau ngga tau, kalian boleh google dulu. Saya kasih waktu 5 menit. Penjelasan paling enaknya bisa ditonton di youtube. Nah kalau sudah, saya akan tetap jelaskan juga sih hehe. Jadi ISFP adalah salah satu dari 16 jenis kepribadian yang ada pada manusia, setidaknya itu berdasarkan penelitian temen-temen kita yang kuliah di jurusan psikologi. Penamaan kepribadian ini juga bisa beragam, tapi memang penggunaan 4 huruf tersebut cukup familiar di bidang tersebut. 

Salah satu tempat untuk bisa mengecek kepribadian kamu ada di website 16personalities.com. Disana kalian bisa melakukan tes secara gratis untuk mengecek tipe kepribadian kamu. Saya sendiri sudah melakukannya sekitar satu tahun lalu. Dan mendapatkan diri saya memiliki kepribadian ISFP. Mengenai keakuratan dari tes tersebut saya kurang tahu. Jika tes tersebut dalam bahasa indonesia, mungkin bisa lebih akurat. Kenapa? karena bahasa itu penting dan memiliki makna penekanan yang sulit untuk diungkapkan bila terjadi alih bahasa.

Oke, kita masuk ke ISFP. Jadi menurut berbagai sumber, ISFP terdiri dari Introversion, Sensing, Feeling, dan Perception. Nah penjelasan lebih lanjut akan kita bahas secara lebih mendalam satu per satu.

Introversion
Seperti yang kita ketahui bersama Introversion (Introvert) adalah lawan dari Extraversion (Extrovert). Nggak lawan juga sih. Kebalikan maksudnya. Atau berbanding terbalik. Jadi manusia yang dikategorikan Introversion ini cenderung pendiam. Bukannya bisu, hanya saja tipe-tipe ini lebih senang berinteraksi dengan orang-orang yang berada dalam lingkaran pertemanan terdekat. Tipe ini juga merasa menghabiskan energi untuk berinteraksi sosial, atau akan cepat lelah. Berbeda dengan tipe extrovert yang justru akan lebih bertenaga. 

Lalu betulkah saya begitu? Jawabannya YA. Saya bukan lagi cenderung pendiam. Saya memang pendiam. Kalau ngga ada yang harus diomongin, saya ngga perlu ngomong. Bahkan kalau ada yang harus diomongin pun, saya berpikir berkali-kali, "apa perlu?", "nanti salah ngomong malah runyem", "kayaknya pendapat gue ngga akan merubah keadaan". Pada contoh lain, saya suka lebih memilih tempat makan sepi ketimbang yang rame. Saya juga suka memilih tempat yang "less-meet up-possibility". Bukan karena sombong. Tapi suka males aja kalau nanti harus ngobrol panjang lebar disaat ingin menikmati waktu 'sendiri'. Kayak kalo mau ketemu orang tuh mesti prepare mental, "nanti mau ngomongin apa".

Sensing
Kalau diartikan ke bahasa indonesia, artinya adalah penginderaan. Artinya orang-orang dengan kepribadian ini lebih mengutamakan apa yang dirasakan oleh indera yang dimiliki ketimbang intuisinya. Mereka percaya dengan apa yang nyata ketimbang sesuatu yang abstrak. Jadi, apa yang mereka lihat atau rasa lebih dapat dipercaya, ketimbang yang tak mereka lihat. Tipe orang ini senang dengan detail dan keadaan yang ada saat itu ketimbang kemungkinan yang tak terduga.

Apakah saya begitu? Apakah saya percaya dengan apa yang saya lihat dan indera saya? Hmm kayaknya sih begitu. Misalnya pernah ada temen yang bercerita kalau si A itu begini-begitu, saya ngga akan percaya apalagi kalau ngomong hal-hal jelek. Biasanya saya kasih argumen positif kalau mungkin si A tidak bermaksud begitu. Selama saya ngga lihat langsung, saya memang ngga bisa langsung percaya. Contoh lain, si B memutuskan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lalu saya udah tuh cukup lama ngga pernah kontak lagi. Suatu ketika si B muncul di sosial media dengan sebuah foto yang mematahkan keputusan/janji/ucapan yang pernah ia buat sebelumnya. Saya langsung mikir "lha?? kok gitu. omdo deh". Itu sebagian kecil bagaimana I believe my eyes a lot.

Feeling
Jenis yang satu ini berkebalikan dengan Thinking. What?! Artinya saya ngga suka mikir?? Sedih sih. Tapi kita cek dulu. Feeling ini diartikan sebagai perasaan, yang mana tipe orang dengan Feeling lebih mengutamakan perasaannya dalam menilai sesuatu ketimbang kriteria yang objektif. Ketika mengambil keputusan, tipe ini juga memberi tendensi pada dampak sosial ketimbang logika. Benarkah begitu?

Ternyata benar sekali. Hahaha. Kalau dibilang ngga suka mikir, ngga bener juga. Mungkin penggambarannya adalah dalam mengambil keputusan, saya mencampuradukkan urusan pribadi, perasaan individu ketimbang logika. Nah itu. Meskipun ngga selalu. Salah satu contoh kalau saya Feeling banget, adalah ketika saya mau membeli barang. Saya tahu banget bahwa si A ini speknya ngga lebih baik dari si B. Tapi saya sangat suka dengan tampilan A, dengan detail yang dimilikinya, testimoni penggunanya. Akhirnya pilihan jatuh ke A, meskipun sudah dicompare berkali-kali dengan B yang memiliki spek lebih tinggi. Tapi apakah saya menyesal? enggak. Karena saya suka, jadilah barang tersebut memiliki value tinggi bagi saya, dan sangat digunakan semaksimal mungkin. Contoh lain, ketika saya tau suatu keadaan dimana 'its not gonna work', karena secara pertimbangan logika itu hanya akan merugikan saya, dan saya tahu itu, karena saya bisa mikir. Tapi tetap saya lakukan karena saya suka. Karena saya sayang. *halah apasih*. Pada akhirnya perasaan saya berada di garis terdepan dalam memutuskan sesuatu.

Perception
Kalau diartikan secara bahasa, agak membingungkan. Tapi yang jelas, kepribadian ini menggambarkan keterbalikan dengan Judgement. Dimana ISFP cenderung untuk menunda keputusan. Atau berlama-lama berpikir. Mereka sulit mengambil keputusan. ISFP cenderung untuk membuka opsi, yang mana memungkinkan mereka untuk mengambil kesempatan lain apabila situasi berubah. Lalu apakah ini benar seperti sifat saya?

Yah, ternyata benar juga. Saya cenderung membuka opsi sebesar-besarnya pada sebuah keputusan. Saya menundanya. Contoh gampangnya itu kenapa saya ngga bisa move on. Saya berpikir bahwa "mungkin kita masih bisa, aku akan tunggu sebentar lagi" dan begitu terus sampai kucing berevolusi jadi manusia. Saya juga suka mikir, kalau orang melakukan hal buruk pada saya, bukan berarti saya juga harus melakukan hal buruk pada mereka. "Yauda gapapa, nanti juga mereka berubah". Yang kadang juga ngga baik sih, kalau saja saya adalah tipe Judgement yang bisa ambil keputusan untuk tegur langsung, mungkin bisa jadi lebih baik. Entah.


Lalu untuk apa tahu kepribadian? untuk pengetahuan, biar kita tahu, bahwa setiap orang punya personality yang berbeda-beda. Punya preferensi dan sudut pandang yang berbeda dalam melihat sesuatu. Setiap orang punya role-nya masing-masing. Kalau kamu ngga cocok sama seseorang, itu bukan salah kamu atau salah dia. Ya memang adanya saja begitu. Ngga usah dipaksakan, dan sebaiknya hargai saja sikap yang dipilih masing-masing orang. Kalau merasa janggal, tanyakan. Tabbayun. Klarifikasi agar ngga ada simpang siur. Tapi juga jangan jadi memaksa, kecuali kalau mereka punya kewajiban untuk mempertanggungkan perbuatannya. Jadi? yauda gitu aja ISFP mah.

Nah sedikit tambahan, ada juga kelebihan dan kekurangan dari ISFP menurut 16personalities.com, diantara kelebihannya adalah;
Charming, Sensitive of others feeling, Imaginative, Passionate, Curious, Artistic.

Adapun kekurangannya adalah;
Fiercely independent, Unpredictable, Easily stressed, Overly competitive, Fluctuating Self-esteem.

Perlu dikasih contoh lagi kelebihan dan kekurangannya ISFP? kayaknya ngga perlu ya. Bisa langsung liat saya orangnya memang kayak begitu kok. Apalagi yang temen atau deket sama saya. Komen yaa dibawah, kalau berani wgwg.




You Might Also Like

0 comment