Idealisme

12/30/2018 12:27:00 AM

Berantakan. Itulah yang terjadi pada tulisan-tulisanku akhir-akhir ini. Seperti dikejar-kejar setan. Ngga karuan. Aku menjadi terburu-buru biasanya karena ingin menyelesaikan tulisan agar bisa segera di posting. Biasanya, proses tulisan agar bisa terbit di blog ini ngga panjang, tapi perlu cermat. Sayangnya, demi bisa segera tayang, aku kadang menyampingkan itu semua. Salah sih.

Biasanya ya, dalam menulis sebuah naskah blog, aku lebih suka ngga satu hari jadi. At least, aku kudu bikin draft dari jauh-jauh hari. Kerangka berpikirnya tuh harus sudah ada duluan. Bisa dari draft yang kutulis di notes hape, ataupun langsung ngedraft di blogger. Setidaknya aku tahu apa aja sih yang mau kuceritakan, dan disaat finalisasi, aku sudah dengan mood 100% untuk menyelesaikannya dengan baik.

Nggak hanya itu, materi-materi pemanisnya juga harus disiapkan sebelum naskah blog layak posting. Misalnya kayak foto-foto yang mau digunakan, biasanya sudah aku sortir terlebih dahulu ke dalam sebuah folder khusus untuk postingan tersebut. Nantinya gambar yang ukurannya besar, akan aku edit kembali dengan ukuran sekitar 150Kb agar efektif di Upload ke Blog.

Nah sekarang aku juga sedang mencoba gaya baru, yakni menggunakan sketsa sebagai thumbnail dari setiap post yang akan aku buat. Hmm ngga sulit, tapi juga ngga mudah. Lebih tepatnya merepotkan. Karena aku harus meluangkan waktu setidaknya 15 menit paling sedikit untuk menggambar. Kemarin tuh aku sempet mencoba menggambar langsung banyak gitu. Jadi membuat beberapa gambar untuk post-post lama yang belum memiliki thumbnail. Hasilnya? lebih lucuk kan? hhe

Setelah materi-materi yang kupunya tersusun dalam draft, biasanya aku akan melakukan review, atau baca ulang terhadap tulisan yang kubuat. Entah itu review dalam penggunaan kata-kalimat, hingga cetakan miring untuk bahasa asing, ataupun gimmick komedi (seringnya garing) yang ingin kusisipkan. Bahkan ngga jarang, setelah aku post, dan kubaca lagi, ada aja gitu yang mau ku edit karena kata-katanya kurang ng-enak-in.

Ohya ngomongin soal Gimmick. Aku suka lelah sama komentar netijen di instagram yang bilang aku galau melulu. Fyi, itu gimmick marketing untuk meningkatkan engagement di sosial media. Jadi menurutku tuh foto bagus di IG uda biasa, uda banyak, berceceran. Orang yang nge-like biasanya tuh hanya sekedar lewat. Tapi ketika ada caption lucu, orang jadi punya ketertarikan. Relate gitu sama kehidupan remaja usia 20an kaya guee wkwk. Aku berharap orang yang baca caption bisa nyess di otaknya atau seengganya senyum-senyum sendiri. Yang nantinya orang akan mulai penasaran, "foto cakep dan caption gombal apa lagi nih selanjutnya?"

Lanjut soal tulisan, di banyak tulisan akhir-akhir ini, aku ngga menerapkan review ulang terhadap naskah yang kubuat. Jadi kesannya tuh kayak waktu yang kusiapkan untuk menulis tuh ya udah segitu aja, sedikit. Tulis dikit, langsung post. Beda banget kalau kamu main ke instagramku. Disana aku bener-bener ngereview apa yang mau aku post. Seleksinya ketat. Bahkan draft yang mau tayang pun bisa berubah dalam hitungan beberapa menit sebelum tayang. *lebay

Jadi yaa gitu deh. Semoga di 2019 nanti, aku bisa lebih wise menulis dengan quality control yang lebih baik. Bahkan untuk target menulis di 2018 aja bisa dibilang mengalami penurunan signifikan, yang tadinya di 2017 mencapai 100 post, sekarang bahkan belum menyentuh angka 50 post. Sori sudah membuang waktumu membaca tulisan ini. Tinggalin komen kalau kamu punya pemikiran lain. Bye



You Might Also Like

0 comment