Positif Covid

17.57

Halo! Senang rasanya masih ada kesempatan untuk menulis lagi, walaupun memang mood untuk menulis datang dan pergi. Jadi nih aku mau share sedikit tentang kondisiku dan keluarga di rumah yang sekarang lagi darurat Covid dan darurat Banjir. Yap, dobel masalahnya. Aku sendiri juga agak kewalahan sebenarnya, karena di masa pandemi ini bisa dibilang bukan waktu yang tepat ya untuk sakit. Dengan segala problematika yang ada, apalagi ditambah banjir.

Rasanya seperti mimpi! Padahal sejak awal pandemi mulai merebak, aku termasuk yang cukup aware sama keadaan, dengan selalu menerapkan protokol, menggunakan masker, menjaga jarak hingga mencuci tangan. Bahkan ketika berada di tempat umum pun, aku tidak sembarangan memegang sesuatu, selalu menghindari menyentuh tempat-tempat yang berpotensi hingga akhirnya waktu ini pun tiba.

Awal Mula

Semua ini dimulai dari hari Minggu, 14 Februari 2021. Hari itu semuanya nampak normal-normal saja. Meskipun dikatakan orang sebagai hari Valentine, namun tradisi di keluarga kami tidak pernah menganggap adanya budaya seperti itu, sehingga semua orang seperti biasa stay at home.

Aku juga masih ingat hari itu aku menghabiskan berbagai macam film dan serial di Netflix maupun Disney+. Hingga tiba malam hari...

Ayahku mulai jatuh sakit. Waktu sudah cukup larut, lampu-lampu rumah sudah dimatikan. Ketika aku hendak mengambil air minum di dapur, aku melihat ayah tidur di ruang tengah dengan selimut yang menyelubunginya. Nampak begitu kedinginan dan tidak sehat.

"mungkin sakit pancaroba..." pikirku karena memang sedang musim hujan.

Keesokan harinya, aku mulai melihat Mama nampak menggunakan sweater cokelat berbentuk cardigan miliknya. Juga nampak seperti orang yang sedang sakit.

Kami masih beraktivitas seperti biasa. Ditambah, hari itu Senin, 15 Februari 2021, aku harus pergi ke Kantor untuk membantu acara BOD. Sepulangnya dari Kantor, kondisi Ayah dan Mama belum membaik. Ya seperti orang sakit pada umumnya.

Ayah mengeluhkan Demam, begitupula dengan Mama. Beberapa kali terdengar suara batuk yang cukup keras.

Selasa, 16 Februari 2021, Mama mulai berinisiatif untuk pisah kamar dengan Ayah. Khawatirnya, sakit yang dialami Mama disebabkan oleh penularan Ayah, yang tidak menutup kemungkinan adalah Covid. Ayah tidur di kamar, sedangkan Mama memilih menyiapkan kasur di dekat ruang Komputer.

Kondisi kedua orangtuaku nampaknya belum juga membaik. Di hari Rabu, 17 Februari 2021, Ayah dan Mama pergi ke salah satu Rumah Sakit di Bekasi untuk melakukan Medical Check-up sekaligus tes Rapid Antigen (hanya ayah). 

Di hari tersebut, aku tidak dapat pergi mengantar, karena sudah ada janji untuk meeting dengan PUPR Karawang dari jauh-jauh hari. Sepulangnya dari Karawang, aku pun langsung ke RS untuk mengambil hasil. Singkat cerita, Ayah divonis Positif Antigen. Hasil medical Check-up Ayah Normal, Mama gejala Tipes. 

Aku dan Mama yang kebingungan di RS akhirnya mulai menyiapkan strategi selanjutnya.



Langkah Selanjutnya

Tentu semua orang menyadari bahwa biaya untuk Swab PCR tidaklah murah. Maka dari itu, kami mencoba menghubungi Puskesmas Jakasetia Bekasi untuk rekomendasi lanjutan. Yang akhirnya dijadwalkan untuk mendapatkan Swab di hari Jum'at khusus untuk Ayah.

Bagaimana dengan yang lainnya? Aku mencoba menghubungi kantor untuk mendapatkan fasilitas pengecekan Covid yang memang sudah disediakan secara reguler. Hasilnya dijadwalkan untuk Antigen pada hari Jum'at. Adapun Adik-ku secara mandiri langsung Swab PCR di RS Bekasi pada hari Kamis.

Sambil menunggu waktu yang ditentukan untuk tes, kami pun mengisolasi diri di kamar masing-masing.

Jum'at, 19 Februari, sejak dini hari hujan turun begitu deras selama beberapa jam. Mengakibatkan banjir yang tak terhindarkan. Sebelum muka air menutup akses jalan, aku pun harus segera memindahkan mobil ke area yang aman dari Banjir.

"Kebayang ngga sih? semua orang dirumah lagi sakit, diluar hujan sampai banjir sebetis, masih harus mindahin 2 mobil yang jaraknya sampai 2 km dari rumah. Habis markirin 1 mobil, mesti jalan kaki lagi ke rumah ujan-ujanan, trus mindahin mobil lainnya lagi" sungguh hujan & banjir yang tidak tepat waktunya.

Paginya aku bergegas ke kantor untuk Antigen menerjang banjir. Hasilnya tak diduga, aku pun Positif Antigen. Kantor langsung merujuk untuk Swab PCR di UKI pada hari Sabtunya. Disaat yang sama, Ayah terdeteksi Positif PCR oleh Puskesmas. Oleh karena itu, Mama juga langsung di PCR oleh puskesmas. Hasilnya ternyata Mama Negatif PCR.

Disusul dengan hasil PCR adik yang baru rilis pada jumat sore, yakni Positif. Akhirnya sementara ada Ayah dan Adik yang positif. Karena Antigenku Positif, maka aku juga menempatkan diri sebagai orang yang positif sampai benar-benar mendapat hasil PCR. 


Karena Ayah mengeluhkan sesak, kami pun mendapat rekomendasi dari Puskesmas untuk memindahkan Ayah ke RS. Akhirnya Jum'at Malam, ayah pun dibawa ke RS untuk mendapat perawatan.


Sejujurnya agak khawatir, karena beredar kabar biaya perawatan Covid bisa mencapai ratusan juta. Namun pihak RS dan puskesmas meyakinkan kami, bahwa seluruh biaya ditanggung oleh pemerintah. 

Sedikit lega tapi tetep aja khawatir...

Aku sebagai perwakilan keluarga yang mengantar Ayah ke RS diharuskan menandatangani berbagai dokumen hingga surat pernyataan. Intinya, jika mau Ayah dirawat di RS dengan biaya ditanggung KemenKes atau BPJS, harus ikut protokol yang berlaku dari awal sampai akhir (termasuk amit-amit jika meninggal, harus dimakamkan dengan protokol).

Di Hari Sabtu, akhirnya aku pun harus Swab ke UKI. Sayangnya karena banjir, aku nggak bisa naik kendaraan sendiri. Terpaksa naik Gojek dari rumah ke cawang, makin bangkrut deh ini.





Sabtu malam hasilnya pun keluar, aku divonis Positif PCR....



You Might Also Like

0 comment